Bagi mereka yang sedang atau sebelumnya pernah mempelajari tentang akuntansi, pastinya juga pernah bertemu dengan istilah harga pokok penjualan (hpp) dan harga jual. Karena sama-sama mengandung kata “jual”, banyak diantara bebrapa orang yang merasa bingung dan akhirnya menganggap bahwa keduanya adalah sama. Padahal, harga pokok penjualan dan harga jual memiliki makna dan perhitungan yang berbeda diantara keduanya. Dan Berikut ini merupakan penjelasannya.
1. Harga Pokok Penjualan (HPP).
Lebih sering disebut juga dengan Cost of Goods Sold (COGS) atau harga pokok penjualan (HPP) yang lebih mengacu kepada seluruh biaya langsung yang telah dikeluarkan dalam memperoleh barang atau jasa yang telah dijual. Biasanya, HPP sudah termasuk biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Tujuan utama dari penghitungan HPP adalah untuk mengetahui seberapa besarnya biaya yang telah dikeluarkan dalam memproduksi barang dan jasa yang akan menentukan harga jualnya. HPP akan muncul pada laporan laba-rugi sebagai komponen utama dari biaya dan memiliki beberapa komponen penting berikut ini:
• Persediaan awal barang dagangan: persediaan barang dagangan yang sudah ada pada awal periode atau tahun buku berjalan.
• Persediaan akhir barang dagangan: persediaan barang dagangan yang terdapat pada setiap akhir periode atau tahun buku berjalan.
• Pembelian bersih: seluruh pembelian barang dagangan yang telah dilakukan oleh perusahaan, baik itu adalah secara tunai atau berupa kredit, ditambah lagi dengan biaya angkut pembelian, lalu akan dikurangi oleh potongan pembelian atau retur pembelian.
2. Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan.
Dalam menentukan HPP, Anda bisa menggunakan rumus di bawah ini:
(HPP = barang tersedia untuk dijual – persediaan akhir)
Keterangan:
o Barang tersedia untuk dijual = berupa persediaan barang dagangan awal + pembelian bersih.
o Pembelian bersih = (pembelian + biaya angkut pembelian) – (retur pembelian + potongan pembelian).
Contoh:
PT XXX, Jakarta pada 1 Januari 2017
– Persediaan barang dagangan (awal) : Rp 10.000.000.00,-
– Pembelian : Rp 50.000.000.00,-
– Beban angkut pembelian : Rp 1.000.000.00,-
– Retur pembelian : Rp 2.000.000.00,-
– Potongan pembelian : Rp 1.500.000.00,-
– Persediaan barang dagangan (akhir) : Rp 5.000.000.00,-
Penghitungan HPP nya adalah:
– Pembelian bersih = (Rp 50.000.000 + Rp 1.000.000) – (Rp2.000.000 + Rp 1.500.000) = Rp 47.500.000.
– Barang tersedia untuk dijual = Rp 10.000.000 + Rp 47.500.000 = Rp 57.500.000.
– Harga pokok penjualan = Rp 57.500.000 – Rp 5.000.000 = Rp 52.500.000.
Dengan menghitung HPP, Anda juga bisa menentukan harga jual yang benar-benar pas untuk dibebankan kepada konsumen. Dari sisi lain, HPP juga dapat membantu Anda dalam mengetahui laba yang diinginkan oleh perusahaan. Jadi, apabila harga jual jauh lebih besar dari HPP, maka bisnis Anda akan mampu menghasilkan laba. Sebaliknya, apabila harga jual jauh lebih rendah dari HPP, maka kemungkinan besar bisnis akan mengalami kerugian (bangkrut).
3. Harga Jual.
Sementara itu, untuk harga jual merupakan besaran harga yang akan dibebankan kepada konsumen. Besaran harga jual bisa didapatkan dari perhitungan biaya produksi ditambah lagi dengan biaya non-produksi serta laba yang telah diharapkan. Nah, untuk menentukan harga jual, biasanya terdapat dua metode yang sering diterapkan, yaitu:
• Penetapan harga biaya plus.
Menentukan harga biaya plus atau cost-plus pricing method bisa dilakukan dengan rumus berikut:
Harga jual = biaya total + margin:
Sebagai contoh, anggaplah bisnis tas kecil Anda telah mendapatkan order sebanyak 100 buah untuk souvenir pernikahan. Biaya yang telah dikeluarkan untuk memproduksi tas tersebut diperkirakan adalah sebanyak Rp 5.000.000.00,- Riniciannya adalah sebagai berikut:
o Biaya bahan baku : Rp 3.500.000.00,-
o Biaya tenaga kerja : Rp 1.000.000.00,-
o Biaya lain-lain : Rp 500.000.00,-
Apabila Anda menginginkan laba sebesar 10% dari biaya total, maka:
Harga total: biaya total + laba = Rp 5.000.000.00,- + (10% x Rp 5.000.000.00,-) = Rp 5.500.000.00,-
Dengan demikian, harga dari setiap tas kecil yang telah dijual adalah sebesar Rp 55.000.00,-
• Penetapan harga mark up.
Metode seperti ini lebih banyak digunakan oleh pebisnis karena caranya yang cenderung lebih sederhana. Mark up adalah berupa kelebihan harga jual dari harga beli. Misalnya saja, Anda memiliki toko makeup. Anda membeli salah satu produk makeup seharga Rp 200.000.00,- Karena ingin mendapatkan keuntungan sebesar Rp 50.000.00,-, maka Andapun menjualnya seharga Rp 250.000.00,- (Rp 200.000.00,- + Rp 50.000.00,-).
Nah, sekarang apakah Anda sudah bisa membedakan antara harga pokok penjualan dengan harga jual? Semoga tulisan ini bisa membantu Anda dalam memahami perbedaan diantara keduanya agar tidak lagi bingung saat membuat laporan keuangan bagi bisnis Anda.
City Of Tomorrow Mall, Jl. A Yani No. 288 (Bunderan Waru) Lantai UG, Blok US 23, No. 3 & 5, Surabaya.
Handphone : 0818521172 (XL), 081252982900 (Simpati)
Office (only call no sms) : 0811-3444-910
Email : groedu@gmail.com/groedu_inti@hotmail.com




